Minggu, 30 Oktober 2011

Belajar di Rumah Angker

Di Suncity Sidoarjo, sempat ada 'Rumah Angker'. Yah, semacam rumah hantu gitu deh.
Pengunjungnya banyak, antreannya panjang bahkan hingga hari terakhir.
Dan orang orang yang keluar dari situ pada lari kenceng, teriak teriak dan hampir nangis.
Entah kenapa reaksi mereka se lebay itu. Haha

"Mereka bukan hantu. Hantu itu nggak ada. Semua yang ada di dalam adalah manusia, sama seperti kita. Kita masuk Rumah Angker ini untuk menguji seberapa besar keimanan dan ketauhidan kita kepada Allah. Jangan sampai rasa takut kepada hantu mengalahkan ketakutan kita kepada Allah, mengalahkan ketauhidan dan keimanan kita. Siap?" Abi memberikan prolog yang terus diulang ulang ketika di antrian sampai di depan pintu masuk.
Ya! Aku memutuskan untuk mencoba permainan ini, bertiga sama Abi dan Adek.
Wahaha, tumben bangetlah Abi mau ikutan nyoba ginian.

Dan, masuklah kita betiga bareng sama sepasang remaja. Woosh, gelap! Banyak hantunya. Ada pocong, kuntilanak, trus ada WC yang berdarah gitu, dan suara suara yang katanya menyeramkan itu.
Haha, nyatanya kita bertiga berhasil keluar dengan ekspresi nyantai, nggak kayak yang lainnya.
Tentu saja ketika di dalam, sepanjang perjalanan Abi tetep ngasih keyakinan ke kita bahwa itu cuma manusia dan yang lainnya. Woohoooo! :D

Sampai di rumah, Abi tanya, "Apa yang bisa kita pelajari dari Rumah Angker tadi?"
Aku sama Adek diem. Akhirnya dijawab sendiri sama Abi.

Pertama, untuk memulai bisnis itu, kita harus punya kreatifitas. Bagaimana membuat permainan sederhana yang jarang ada, menarik perhatian, dan bisa dipastikan laris.

Kedua, tentu saja kerjasama. Yaa kerjasama antar semua anggota tim. Mulai dari satpam, penjual tiket, penjaga pintu masuk, hantu yang di dalam sampai dengan hantu yang di luar (yang diajak poto-poto).

Ketiga, negosiasi. Adalah dimana pemilik bisnis Rumah Angker ini bisa menawarkan produknya kepada owner mall tenpat dia 'numpang'. Bagaimana membuat sang owner akhirnya menyetujui tawarannya.

Keempat, pemasaran. Strategi bagaimana kita bisa menjual produk kita. Yang dilakukan oleh tim marketing dari Rumah Angker ini bisa dibilang cukup sederhana. Mereka menempelkan pamflet-pamflet di tempat yang dirasa strategis. Yeah, kuakui : pertama kalinya aku tahu tentang Rumah Angker ini memang dari pamflet yang mereka tempel di papan pengumuman sekolahku. Nah, ketika sudah ada pengunjung yang mencoba permainan ini, tentu mereka akan menceritakan pengalamannya kepada teman lainnya. Sehingga, teman tersebut menjadi penasaran dan akhirnya tertarik untuk mengunjungi Rumah Angker.

Dan masih banyak lagi, haha. Aku udah lupa, cuma inget hal hal yang pokok dan penting aja, haha ^__^V
Terakhir, "jadi, nggak harus pinter matematika untuk bisa bekerja. Yang penting ada kemauan dan kreatifitas, semua bisa terjadi!"
Hiks, pernyataan terakhir Abi ini 'jleb' banget di aku. Bukan tanpa alasan, pasti Abi masih inget waktu aku tunjukkan nilai ulangan Fisika ku dulu itu.
15, trus dilingkarin. Apa coba?
-_________-

Tidak ada komentar: