Teman, sebelum membaca catatan saya, coba deh renungi sabda Nabi ini.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda,
"Jibril mendatangiku dan berkata, 'Ya Muhammad, sesungguhnya Allah SWT melaknat khamr, orang yang memerasnya, yang meminta peras, peminumnya, pembawanya, orang yang menerimanya, penjualnya, pembelinya, yang memberi minum dan yang diberi minum'," (HR Ahmad)
Kemudian, satu lagi.
Dalam satu riwayat, ’Umar radiyallahu 'anhu pernah bertanya kepada ’Ali, tentang pembunuhan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap seseorang.
’Ali bertanya kepada ’Umar, "apa pendapatmu seandainya ada sekelompok orang mencuri barang, apakah engkau akan memotong tangan mereka?"
’Umar menjawab, ”Ya”.
Ali menukas, ”Demikian pula pembunuhan. Jika sekelompok orang bersekutu, baik dua orang atau lebih untuk membunuh seseorang, maka semuanya dikenai sanksi. Semuanya harus dibunuh meskipun pihak yang terbunuh satu orang."
maaf, sebenernya saya nggak pengen bikin berat kepalamu, teman. janji deh, ini yang terakhir.hehehe :P
renungi ya..
"Dari Ibnu Umar r.a beliau berkata: Seorang budak dibunuh dengan rahasia.
lalu Umar r.a berkata: seandainya penduduk Shan’a itu bersekongkol dalam pembunuhan budak itu, maka sungguh saya akan membunuh mereka karena membunuh budak itu.”
.............
kontradiktif. bukan begitu? yang satu hadist tentang larangan mendhem alias mabok, tapi yang satunya tentang membunuh orang. lebih-lebih lagi sama judulnya : Renungan Para Pencari Ilmu. gak nyambung babar blas..
apakah saya akan membahas tentang ancaman para ahlul khomr yang bisa aja bunuh orang? hm, memang itu kadang masih terjadi di tempat saya. tapi, bukan itu yang ingin saya bahas.
yang saya ingin bahas, adalah esensi dari hadist-hadist di atas.
esensi nomor satu, jika sesuatu bersifat haram, maka sesuatu yang berhubungan dengannya adalah haram pula. seperti halnya khamr, yang memberikan laknat kepada semua yang berhubungan dengannya.
esensi nomor dua, jika perbuatan dosa dilakukan secara bersama-sama, dosa itu akan terbagi rata bagi para pelakunya. sekecil apapun kontribusi si pelaku pada perbuatan dosa itu.
seperti halnya orang yang membunuh bersama-sama, maka hukum qishash akan berlaku pada seluruh pelakunya. bahkan jika si pelaku hanya ikut menorehkan luka kecil sekalipun.
mmm... sudah memahami esensinya? yak, kita lanjut ke bahasan utamanya.
"..Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa , dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. ." (QS.Al-Maidah:2)
lho kok nongol satu dalil lagi? katanya tadi yang terakhir? waah, ga konsisten nih penulisnya *ditimpukin sama pembaca*. hehe, maaaf, saya nggak tahan untuk menulis yang satu ini. tapi saya nggak ingkar janji kok. ini kan ayat Al-Qur'an, bukan hadist :P
yaah, kalo kalian memaknai kata 'jangan' dalam kalimat 'jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran' dengan baik, maka kalian akan paham bahwa itu bermakna larangan.
sama seperti kata 'jangan' dalam 'Janganlah kalian mendekati zina..' di surat Al-Isra' ayat 32.
maaf ya kalo saya berputar-putar. soalnya kalian nggak bakalan paham apa yang ingin saya sampaikan di bawah ini, kalo nggak terlebih dahulu meresapi semua prolog di atas. trust me.. ^_^
oke, mulai dari sini, bahasan sebenernya akan dimulai. hahay :)
siapa diantara kalian yang pernah nyontek?
saat ujian?
saat ulangan?
kalian nyontek sendirian, ato bareng-bareng?
nyontek itu dosa nggak sih?
ah, kalo pertanyaan yang ini, saya yakin kalian tau jawabannya. udah dibahas 'kan tadi di atas? hehe.
Gila..nendang banget! So, masih kepikiran buat nyontek ga?ya dosa lah.
oke. nyontek itu dosa ya.
yup
trus, emangnya kenapa kalo dosa?
ah, naifnya pertanyaan itu.
ambillah masa ketika kita eS-eM-A. kita nyontek untuk ujian akhir nasional kita. kita pun nyontek untuk yang lain, sehingga hasil contekan kita yang berupa angka itu, terpampang di raport semester kita.
dan ketika hasilnya keluar, kita dinyatakan lulus, dan menerima ijazah SMA.
kita lulus karena kita nyontek. pertanyaannya adalah : halalkah ijazah itu bagi kita?
setelah itu, dengan berbekal ijazah SMA itu, kita masuk universitas. karena nilai kita baik, maka kita diterima. andaikata nilai kita di bawah itu, maka jangan harap bisa belajar disana. >_<
kita diterima di universitas karena nilai kita di ijazah hasil nyontek itu. pertanyaannya adalah :
halalkah kita kuliah selama empat atau lima tahun disana?
setelah kuliah selama empat - lima tahun, akhirnya kita dinyatakan lulus. jadi sarjana oii ^_^.
kita lulus dari universitas yang menerima kita empat tahun lalu, karena ijazah hasil nyontek itu. pertanyaannya adalah : halalkah ijazah sarjana itu bagi kita?
kemudian, berbekal ijazah sarjana itu, kita mencari kerja. dan kebetulan ada lowongan pekerjaan yang membutuhkan tenaga yang sesuai dengan ijazah yang kita miliki. coba mendaftar... dan, hopla! lolos! syukur Alhamdulillah..
kita mendapatkan pekerjaan karena ijazah sarjana kita, yang didapatkan karena kuliah selama bertahun-tahun berkat ijazah SMA hasil nyontek kita yang duluuu... sekali.
pertanyaannya adalah : halalkah uang yang kita dapatkan dari pekerjaan kita itu?
dan yang terakhir..
tatkala pengadilan Agung terselenggara, dengan Allah ta'ala sendiri sebagai hakimnya, Ia meneliti catatan kehidupan kita, juga catatan harta kita.
lalu Ia bertanya pada kita : DARI SUMBER YANG HALAL, ATAU YANG HARAMKAH, REZEKI YANG KAU DAPATKAN INI?
.........
saya masih ingat dulu, ketika Mas Fatan 'Ariful 'Ulum, atau biasa dipanggil mas Fatan Fantastik bertanya kepada saya dan teman-teman saya, "Siapa diantara kalian yang sama sekali belum pernah menyontek?"
dan hanya saya yang berani mengangkat tangan saat itu.
(afwan, ternyata ingatan saya nggak sepenuhnya tepat. karena ada orang lain yang mengangkat tangannya juga saat itu.. jazakillah khoir atas ralatnya :) )
bukan berniat untuk sombong atau apa, karena seingat saya, saya memang belum pernah menyontek. dan teman, tahukah engkau, bahwa tangan saya gemetar saat terangkat? karena saya khawatir, jangan-jangan saya dulu pernah menyontek, namun lupa....
Ya Allah, istiqomahkan hamba dalam pilihan ini... meski hamba seringkali menanggung derita, bertahan dengan cacian dan ejekan pelit, munafik, sok alim dan sederet julukan lainnya..
karena semua itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan ancaman siksa-Mu...
(:'_':)
merasa terganggu sama tag-nya, dihapus aja. maaf ya... (-_-)
Semoga enggak yah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar